oleh

Terapi Menulis Ekspresif Dapat Menurunkan Tingkat Stres Bagi Santri Baru

EKPOSE – Stres merupakan reaksi fisik dan psikis terhadap setiap tuntutan yang menyebabkan ketegangan dan mengganggu stabilitas kehidupan sehari-hari. Fenomena banyaknya santri baru yang keluar dari pesantren di duga berkaitan dengan stres akibat lingkungan baru.

Hal ini yang menjadikan salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Aisyah Pringsewu Lampung Program Studi Ilmu Keperawatan Fera Fitriyani tertarik untuk melakukan penelitian dalam tugas akhir masa studinya dengan judul Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif Terhadap Penurunan Tingkat Stres Santri Baru di Pesantren Al-Falah Putri Margodadi Tanggamus. Dengan tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap penurunan tingkat stres santri baru.

Dalam Survei pra penelitian yang dilakukan di Pesantren Al-Falah Putri Margodadi pada 17 santri baru dengan pengisian angket stres DASS-42 menunjukkan 2 santri mengalami stres sangat berat, 2 stres berat, 3 mengalami stres sedang, 6 mengalami stres ringan.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat stres santri sebelum diberikan terapi menulis ekspresif adalah lebih dari separuh jumlah santri baru yang mengalami stres. Sedangkan tingkat stress santri baru setelah di berikan terapi menulis ekspresif mengalami penurunan

Menurut fera, stres yang dialami santri baru disebabkan karena penyesuaian diri individu terhadap lingkungan baru, dimana terjadi konflik dengan teman serta perbedaan kegiatan santri saat sebelum mondok dan setelah mondok, padatnya jadwal kegiatan sehari-hari dan terutama saat dilakukannya mendekati ulangan pesantren, sehingga santri santri baru tersebut merasa tertekan dan stres.

Penurunan tingkat stres disebabkan setelah diberikan terapi menulis ekspresif santri baru merasa lega dan merasa lebih baik. Dalam menulis sangat diperlukan adanya fokus individu dalam melepaskan dan menuliskan tentang emosi yang paling dalam, sehingga dapat mengurangi tekanan yang dirasakan.

Dalam melakukan penelitian dan analisa data yang dilakukan oleh fera yang melakukan penelitian ini yaitu menggunakan Analisis kualitatif Analisis ini dibuat berdasarkan cerita yang dituliskan subjek pada buku kerja yang telah dibagikan. Dari analisis naratif ini diketahui permasalahan subjek serta prilaku dan emosi yang muncul akibat permasalah yang dialami oleh subjek.

Dalam penelitian ini, topik-topik yang dituliskan oleh subjek adalah konflik terhadap interaksi dengan kawan satu kelas dan satu pesantren (27%) seperti: “Gak suka sama dia jadi orang kok sok pinter; Padahal temen tapi kok ngomongin dibelakang”, masalah dengan teman lawan jenis (10%) “Aku cemburu kalau dia senyum dengan orang lain; Dia negor aku tadi siang, seneng banget”, masalah keluarga (30%) “Kangen sama ibu, ayah dan adikku”, konflik dengan diri sendiri (9%) “Aku memang bodoh”, konflik dengan pengurus pesantren serta konflik terhadap peraturan dan kegiatan pesantren (24%) “Apaanlah, dikit-dikit denda; Aku udah hafal 10 bait Fiqih Jawan”.

Dalam analisis ini juga ditemukan kata-kata negatif (marah, malu, benci, dendam, dongkol, jahat, iri, dll) sebanyak 561 kata (44%) dan dan kata-kata positif (bersyukur, sayang, cinta, indah, perduli, dll) sebanyak 723 kata (56%). Emosi atau perasaan yang muncul dimanifestasikan dengan kalimat seperti berikut ini, marah “Awas aja gak bakal aku tanya lagi!”, sedih “Sedih, pengen pulang..kangen sama mamak”, ketakutan “Aku tuh takut nanti di jejer kalau gak apal”, rasa putus asa “Gak betah buk, pengen pulang aja, udah gak kuat.”, kebencian “Aku jengkel banget sama mbak kamar 10, sinis banget”, menyalahkan orang lain “Jahat banget, temen kok gak saling ngingetin, kan aku yang kena hukuman”, perasaan bersalah “Maaf buk, aku jadi anak yang durhaka sama keluarga”, serta perasaan gembira “Aku seneng dapet kado ulang tahun dari ayahku”, rasa bersyukur “Terimakasih ya Alloh, hari ini aku mendapat nilai ulangan yang bagus”, cinta “Terimakasih cintaku, aku selalu sayang kamu”, dan kasih sayang “Mereka yang selalu ada untukku, Shella, Nisa, dan Ajeng aku sayang kalian”.

Setelah selesai sesi terapi selama 5 hari, didapatkan hasil bahwa 6 santri lebih banyak menulis pengalaman negatif dibandingkan dengan pengalaman positif dan sebanyak 8 santri lebih banyak menuliskan pengalaman positif dibandingkan dengan pengalam negatif. Sesuai dengan pernyataan Pennebaker & Smyth (2016) bahwa pningkatan kata-kata positif dinilai sebagai perbaikan dalam kesehatan. Namun, Pennebaker & Smyth (2016) juga mengungkapkan bahwa tema apapun yang dituliskan, yang terpenting adalah bagaimana melepaskan dan mengeksplorasi emosi dan pemikiran yang paling dalam.

Dari analisis ini juga dapat diketahui bahwa melalui menulis ekspresif subjek dapat mengungkapkan pengalaman atau perasaan yang ia pendam selama ini, selain itu subjek juga dapat memperoleh suatu pemahaman dari masalah yang ia tuliskan. Setelah diberikannya intervensi, interaksi antar subjek juga dirasa meningkat, beberapa subjek yang awalnya kurang dekat menjadi lebih dekat, hal ini dapat dilihat dari awal sesi terapi dimana antar subjek tidak banyak mengobrol dan setelah terapi berjalan subjek lebih banyak mengobrol dengan subjek yang lainnya saat sebelum dan setelah sesi terapi dilakukan. Responden juga cenderung memperlihatkan wajah lega dan gembira setelah 5 hari terapi menulis ekspresif selesai dilakukan.

Para subjek mengemukakan bahwa setelah dilakukannya terapi menulis ekspresif, perasaan mereka menjadi lega dan beban yang mereka rasakan berkurang. Menulis ekspresif dirasa menyenangkan karena dapat mengungkapkan emosi mereka, hal ini dapat dilihat pada lembar kerja tambahan, beberapa subjek menuliskan pengalaman ataupun perasaan lain di luar sesi terapi pada lembar kerja tambahan (kertas kosong yang dilampirkan di bagian buku kerja paling belakang, digunakan oleh responden jika responden ingin menulis di luar sesi terapi, namun tidak masuk hitungan intervensi).

Terapi menulis ekspresif hendaknya dijadikan salah satu treatment yang dapat dilakukan dalam menangani stres baik bagi santri maupun individu secara umum.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekpose Update